Label 1

Test Footer 1

Menu Blog

Favorit Saya

Test Footer 3

Sponsored

Recent Post

Powered by Blogger.

Monday, 24 December 2012

"Kiamat" bersama Bintang Tua Betelgeuse


Jurnal,Kiamat Maya yang sempat membuat keributan batal sudah. Saatnya kini melanjutkan hidup seperti biasa. Salah satu aktivitas pertama yang bisa dilakukan adalah mengamati langit malam. Semoga saja tidak hujan.

Jumat (21/12/2012) malam ini, ada beberapa benda langit yang tampak. Sesaat setelah Matahari terbenam, ada Mars yang memerah di ufuk barat, sementara di sisi timur ada Jupiter yang akan terbit.

Namun, yang istimewa adalah Betelgeuse, salah satu bintang yang paling terang dilihat dari Bumi. Sebabnya, bintang yang berjarak 430 tahun cahaya ini sempat digosipkan akan meledak pada tahun 2012 menjadi Matahari kedua dengan partikelnya yang mampu menghantam Bumi.

Tentu saja, gosip itu cuma seperti rumor soal kiamat Maya. Takkan terjadi. Situs astronomi Indonesia, Langitselatan, menyatakan bahwa Betelgeuse memang sedang ada pada masa tuanya, tetapi masih akan meledak jutaan tahun lagi.

Dikatakan, Betelgeuse berjarak 640 tahun cahaya dari Bumi. Cahaya ledakan Betelgeuse butuh 640 tahun untuk mencapai Bumi. Jadi, jika Betelgeuse meledak, manusia baru bisa menyaksikannya 640 tahun setelah kejadian.

Tentang ledakan supernova dengan partikel neutrino yang membahayakan Bumi, situs Daily Galaxy juga menguraikan bantahannya. Bumi hanya bisa terdampak supernova yang berjarak 30 tahun cahaya dari Bumi. Dengan jarak 640 tahun cahaya, Betelgeuse takkan menghancurkan Bumi.

Betelgeuse saat ini disebut sebagai bintang raksasa merah. Usia bintang ini pendek dan saat ini telah memasuki masa tuanya. Kecerlangannya mencapai 100.000 kali Matahari dan ukurannya juga mencapai 1.000 kali Matahari.

Jika ada di tata surya, Betelgeuse sudah melahap Merkurius, Venus, Bumi dan Mars. Kondisi Betelgeuse saat ini mencerminkan kondisi Matahari sekitar 5 miliar tahun lagi saat menua dan berubah menjadi bintang raksasa merah.

Malam ini, Betelgeuse bisa disaksikan setelah Matahari tenggelam di langit timur. Bintang ini akan tampak dengan magnitud 0,45, cukup terang. Magnitud menyatakan kecerlangan benda langit, makin negatif, makin terang.

Bersama Betelgeuse, akan tampak pula bintang lain seperti Sirius yang paling terang, Aldebaran dan Capella. Saatnya memandang indahnya langit malam. Tak perlu merisaukan hari kiamat, apalagi membayangkan ledakan bintang itu akan menghancurkan.

Read More »
02:20 | 0 comments

Siapa yang mengjaran tentang Kiamat?

Sebagian besar umat manusia kini meyakini akan adanya kiamat, terutama mereka yang memeluk agama Yahudi, Kristen, Katolik, dan Islam. Bagaimana sejarah munculnya konsep kiamat dan siapa yang berperan mengonsepkannya?

Artikel yang dipublikasikan New York Times, 3 April 1999, memberi sedikit gambaran munculnya konsep kiamat. Dinyatakan, beberapa pakar percaya, ajaran kiamat bermula dari Zoroastrianisme yang didirikan oleh Zarathustra (nabi dari Persia, sekarang Iran) tahun 1300 SM.

James Russell, profesor studi Armenia di Harvard University, mengatakan bahwa Zoroastrianisme mengajarkan, "dunia memiliki awal dan akhir, terbentuk di antara kebaikan dan kejahatan, antara Azura Mazda, Tuhan Kebaikan, dan Ahriman yang jahat."

"Zarathustra mengajarkan bahwa dunia akan berakhir dengan kedatangan sang penyelamat, dan bahwa dunia akan dibersihkan dari kematian dan kejahatan, orang-orang akan bangkit dari kematian," papar Russell.

Pengikut Zarathustra menyatakan, dunia akan berakhir dalam 12.000 tahun, 6.000 tahun terakhir merepresentasikan sejarah manusia. Proses kiamat tak terjadi tiba-tiba, tetapi selama 3.000 tahun terakhir dengan kedatangan 3 penyelamat.

Berdasarkan ajaran Zarathustra, penyelamat yang datang terakhir, Astvat Ereta, adalah yang terpenting. Astvat Ereta yang berarti "wujud kebaikan", seperti Yesus atau Isa, lahir dari seorang bunda perawan yang hamil saat mandi di sebuah danau.

Meskipun kepercayaan ini tak punya konsep neraka abadi, diyakini bahwa kiamat juga merupakan hari penghakiman. Yang jahat akan dimusnahkan, sementara yang baik dan yang dibersihkan dosanya akan dianugerahi keabadian.

Beberapa penganut Zoroastrianisme berpikir bahwa kini masa tengah memasuki 3.000 tahun terakhir. Meski demikian, Russell mengungkapkan, "Kebanyakan penganut Zoroastrianisme tak terlalu peduli soal kiamat."

"Hari ketika dunia akan berakhir adalah saat Spring Equinox (25 Maret) pada tahun ke-12.000 dari penciptaan semesta. Masalahnya adalah, tak ada yang tahu kapan tahun saat kejadian itu," papar Russell.

Zoroastrianisme memang memberi pengaruh besar pada agama-agama dunia. Beberapa agama yang dipengaruhi oleh kepercayaan ini adalah Yahudi, Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Buddha, Jainisme, serta Sikh.

Mary Boyce dalam bukunya Zoroastrians: Their Religious Beliefs and Practices mengatakan, Zoroastrianisme adalah agama tertua yang diketahui dan mungkin yang paling berpengaruh, baik secara langsung maupun tidak langsung, dibandingkan agama lain.

Boyce dalam buku yang sama, seperti dikutip The Environmentalist, mengatakan, "Zoroaster (nama lain Zarathustra) adalah orang pertama yang mengajarkan doktrin penghakiman individu, surga dan neraka, kebangkitan setelah mati, hari akhir, kehidupan abadi, serta kesatuan tubuh dan jiwa."

Read More »
02:15 | 0 comments

Sunday, 23 December 2012

Antibiotik Tidak Mempan

Penyakit batuk atau bronkitis sering diresepkan antibiotik. Padahal, menurut penelitian, ternyata kebanyakan antibiotik tersebut tidak mempan mengatasi batuk pada orang dewasa.

Dalam penelitian terbaru mengenai efektivitas antibiotik, peneliti secara acak meminta lebih dari 2.000 orang dewasa yang menderita batuk untuk mendapatkan antibiotik amoksilin selama seminggu atau mendapat plasebo alias obat yang tak punya zat aktif.

Secara umum, antibiotik tidak efektif meredakan gejala atau durasi batuk dibandingkan dengan plasebo. Temuan itu juga tampak pada orang yang berusia di atas 60 tahun.

"Pesan utamanya adalah antibiotik tidak diperlukan untuk infeksi pernapasan, terutama jika tidak ada dugaan pneumonia," kata dr Philipp Schuetz dari Swiss.

Ia menjelaskan, hanya sedikit pasien yang memperoleh manfaat dari antibiotik dan utamanya adalah mereka yang hasil tes darahnya menunjukkan ada infeksi bakteri. "Pasien dan dokter harus menahan diri untuk tidak memakai antibiotik. Jika tidak yakin, bisa melakukan tes darah," katanya.

Partisipan dalam penelitian ini berusia di atas 18 tahun dan mendapatkan terapi batuk akut, alias mereka sudah menderita batuk kurang dari sebulan. Para peneliti tidak menemukan alasan untuk mencurigai infeksi paru pneumonia yang perlu diterapi dengan antibiotik.

Dalam studi tersebut, para partisipan diberikan antibiotik tiga kali sehari selama seminggu. Selain tidak ada tanda perbaikan batuk, mereka juga mengeluhkan efek samping seperti mual, diare, dan ruam.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat menurut Schuetz memang bisa menyebabkan diare berat. Hal lain yang perlu diwaspadai adalah resistensi bakteri.

Karena bronkitis kebanyakan disebabkan oleh infeksi virus, antibiotik tidak akan mempercepat kesembuhan. Yang bisa dilakukan adalah banyak tidur, minum banyak cairan, dan menggunakan alat pelembab udara di malam hari.

Read More »
21:53 | 0 comments